OLEH: mBah Coco
Versi mBah Coco, dalam wadah turnamen sepak bola, setiap ofisial, pelatih dan pemain, akan menghadapi banyak hal. Namun, khusus fisik dan mental bertanding, adalah kunci, sebuah turnamen bisa diraih sukses, atau gagal di ujung turnamen.
Beda sekali dengan wadah kompetisi, yang membutuhkan tujuh hingga sembilan bulan, agar sebuah tim bisa mengarungi konsep home and away, untuk menghasilkan gelar juara, atau terdegradasi.
Dalam turnamen, apalagi sekaliber Piala Asia, tagline – setiap pertandingan adalah final, wajib ditanamkan dalam benak dan jiwa setiap pemain, yang terpilih sebagai starter. mBah Coco, pernah mengajarkan kepada manajemen, PT HM Sampoerna saat bekerjasama dengan PSSI, menggelar Copa DjiSamSoe 2005 – 09. Bahwa, keistimewaan turnamen Piala Indonesia, setiap pertandingan dari babak 64, adalah partai final (seolah-olah).
Bayangkan saja, di turnamen raksasa AFC U-23, setiap negara, minimal sudah dua minggu menjelang kick off, sudah ada di sekitar Qatar, lokasi penyelenggara putaran final AFC Cup U-23. Termasuk Indonesia U-23, sudah melakukan dua kali ujicoba.
Sejak kick off berlangsung, 15 April hingga 2 Mei 2024, ada sekitar 17 hari berkutat di sekitar ibu kota Doha, Qatar. Setiap negara di penyisihan grup, punya waktu jedah tiga (3) hari sekali, untuk menghadapi 3 pertandingan.
Indonesia U-23, ternyata memiliki keberuntungan dan juga tekad bisa lolos, hingga babak semi final. Artinya, ada waktu enam hari berikutkan, menghadapi Korea Selatan di babak 8 besar, dan kemudian di semi final menghadapi Uzbekistan. Yang di babak 8 besar, menang secara dramatis lewat adu penalti, di semi final, dihajar Uzbekistan, 0 – 2.


