“Anggar bukan hanya soal teknik dan strategi, tetapi juga tentang etika dan kehormatan. Olahraga bisa jadi alat diplomasi dan penyatu bangsa,” tambahnya.
Konflik Global Pengaruhi Partisipasi
Amir Yanto turut menyampaikan keprihatinannya atas beberapa konflik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, yang menyebabkan sejumlah negara batal mengirimkan delegasi ke Bali. Ia mengajak seluruh peserta mendoakan perdamaian dunia.
“Beberapa negara dan juri batal hadir karena situasi yang tidak kondusif. Mari kita doakan agar konflik segera mereda dan dunia kembali damai,” ucapnya.
Bali, Tempat Bersejarah bagi PB Ikasi
Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang juga Presiden NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menyampaikan bahwa Bali merupakan tempat bersejarah bagi Amir Yanto.

Di pulau inilah Amir terpilih sebagai Ketua Umum PB Ikasi, dan kini kembali mencatat sejarah dengan menyelenggarakan kejuaraan internasional terbesar di Asia Pasifik.
“Ini bukan turnamen kecil. Ini event besar yang tidak mudah digelar. Ini membuktikan bahwa Indonesia mampu menyelenggarakan event internasional kelas dunia,” tegas Okto.
Ia berharap Konfederasi Anggar Asia (FCA) dan Federasi Anggar Internasional (FIE) dapat memberikan lebih banyak kepercayaan kepada Indonesia untuk menggelar ajang internasional lainnya.
“Anda datang bukan hanya ke Indonesia, tapi ke Bali—surga wisata dunia. Mari dukung Indonesia untuk menjadi tuan rumah event-event besar berikutnya,” ujarnya.
Okto juga menekankan bahwa olahraga adalah bahasa universal yang dapat mempersatukan bangsa.


