Ia juga melihat kekuatan kompetisi kini lebih merata. Tak ada lawan yang bisa diremehkan.
“Semua tim makan nasi yang sama,” katanya sambil tertawa, menyiratkan bahwa siapa pun bisa saling mengalahkan,namun jangan salah di balik kerendahan hati itu tersimpan target yang tajam: Tembus 3 Besar. Tidak Kurang.
Di luar ambisi kompetisi, Aria memegang filosofi yang lebih dalam: sepak bola sebagai benteng dari pengaruh negatif bagi remaja.
Ia tidak memaksa pemainnya bermimpi muluk jadi bintang atau masuk tim nasional. Yang terpenting, mereka tetap aktif, disiplin, dan punya arah hidup.
“Kalau mereka punya mimpi, lanjutkan. Kalau tidak, setidaknya mereka tumbuh jadi pribadi yang kuat,” katanya.
Di tengah dominasi klub-klub besar, kisah Pemuda Jaya adalah tentang perlawanan sunyi. Tentang bagaimana mimpi bisa tumbuh dari lapangan sederhana, dari latihan jauh di pinggiran kota, dari orang-orang yang percaya sebelum dunia melihat.
Dan jika musim ini mereka benar-benar mengguncang Liga Jakarta U-17, jangan kaget,karena revolusi kecil sering lahir dari tempat yang tak pernah diperhitungkan.|Foto : IssonKhoirul


