Abu berharap, penyiaran Ramadan ke depan dapat menjangkau generasi muda digital-native dengan pendekatan yang ramah, moderat, dan membangun.
“Ketahanan bangsa tidak hanya dibangun dari kekuatan ekonomi atau politik, tapi juga dari ketahanan iman dan narasi kebaikan yang konsisten disiarkan,” pintanya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi menekankan bahwa kegiatan Anugerah Syiar Ramadan bukan hanya soal penghargaan, tetapi juga sebagai forum konsolidasi nasional bagi pelaku penyiaran keagamaan.
“Setiap tahun, kita tidak hanya memberi penghargaan, tapi juga memperkuat koordinasi antar-aktor kunci penyiaran agar dakwah media menjadi bagian dari ketahanan bangsa. Kita ingin siaran Ramadan jadi instrumen membangun akhlak publik,” ujar Zayadi.
Ia menjelaskan, Anugerah Syiar Ramadan tahun ini memberikan 21 penghargaan kepada program televisi, radio, serta tokoh dan program inspiratif dari Kementerian Agama dan MUI. Kategori yang dilombakan antara lain meliputi ceramah, kultum, dokumenter, ILM Ramadan, hingga program yang mendukung gaya hidup halal dan literasi akhlak digital.
Zayadi menambahkan bahwa Kemenag secara aktif telah menyelenggarakan pelatihan literasi digital dan dakwah media bagi penceramah dan penyuluh agama, agar penyiaran keagamaan dapat hadir secara bijak di ruang-ruang digital.
“Ini era di mana narasi baik harus lebih viral dari kebisingan. Kita butuh konten keagamaan yang bukan hanya relevan, tapi juga transformatif,” ujarnya.


