“Terdapat sekitar 170.000 pengrajin tempe di seluruh Indonesia. Tempe juga telah menembus pasar global. Aspirasi dari Rembug ini akan kami rekomendasikan kepada pemerintah,” jelasnya.
Empat rekomendasi utama dari Rembug Budaya Tempe adalah:
1. Diplomasi Budaya: Menjadikan tempe sebagai sajian utama dalam jamuan kenegaraan, acara pemerintah, serta program Makan Bergizi Gratis.
2. Pemberdayaan UMKM: Pengrajin tempe harus difasilitasi dengan akses permodalan, teknologi, dan pasar untuk memperluas jangkauan global.
3. Riset dan Inovasi: Dorongan terhadap penelitian serta pengembangan produk pangan dan suplemen berbasis tempe.
4. Pendidikan Budaya Kuliner: Menjadikan budaya tempe sebagai materi pembelajaran di sekolah serta membangun destinasi wisata edukatif tematik tempe.
Walikota Bogor, Dedie A. Rachim, yang hadir menutup kegiatan menyampaikan kebanggaannya atas tempe yang kini diekspor ke lebih dari 10 negara.
“Tempe bukan hanya makanan bergizi tinggi, tapi juga bukti kecerdasan budaya bangsa dalam mengolah sumber protein nabati,” katanya.
Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Ahmad Sulaeman, menegaskan relevansi tempe dalam program Makan Bergizi Gratis yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Tempe adalah superfood asli Indonesia. Nilai gizinya tinggi, harganya terjangkau, dan cocok untuk generasi muda seperti Gen Z,” ucapnya.
Di kancah internasional, tempe juga mulai dikenal luas. Diaspora Indonesia di Texas, AS, Dr. Xenia Tombokan, bahkan memilih beralih profesi menjadi pengrajin tempe.


