Baru di kemudian hari, AMP mengetahui bagaimana komandannya, Kolonel Doni Monardo “bergerilya” dan berjuang mempertahankan dirinya sebagai Danyon. Tak tanggung-tanggung, ia membawa “persoalan” itu langsung kepada Presiden SBY, melalui seniornya, Brigjen TNI Pramono Edhie Wibowo yang ketika itu (2007 – 2008) menjabat Kasdam IV/Diponegoro.
Pramono adalah adik ipar Presiden SBY. Di sisi lain, Doni Monardo sebelum menjabat Danbrigif Kariango adalah Waasops Danpaspampres.
Doni tahu, Skep Dansatgas Konga XXIII-B tidak akan bisa diubah jika ia “memprotes” melalui jalur normal. Satu-satunya yang bisa menganulir Skep itu adalah Presiden sebagai Panglima Tertinggi.
Begitulah, AM Putranto pun bertolak ke Lebanon sebagai Dansatgas Konga XXIII-B, berkat perjuangan “kakak” yang rela mempertaruhkan kariernya demi dirinya. Doni rela jika harus menghadapi sanksi dari Pangkostrad, Kasad, bahkan panglima TNI sekalipun.
Dalih Doni mempertahankan dirinya, ketika itu adalah, “Saya tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama prajurit Kariango bertugas di Lebanon. Sebab, yang bisa mengendalikan mereka hanya AM Putranto. Yang dikenal oleh para prajurit Kariango adalah Danyon AM Putranto. Bukan yang lain.”
Seusai pelepasan kontingen menuju medan tugas Lebanon, pikiran AMP masih tertuju kepada kebesaran jiwa Doni Monardo. Seketika, tekadnya bulat, akan memberikan pengabdian terbaik di medan tugas, bersama para prajurit Kariango.
AM Putranto pun menjawab tugas kepercayaan dan pengorbanan “kakak” Doni. Selama bertugas di Lebanon, prajurit Kariango patuh dan disiplin dalam menjalankan tugas. Berbekal kemampuan “binter” (pembinaan teritorial), prajurit Kariango menjadi prajurit favorit warga Lebanon.


