Di antara sekian banyak kenangan, ia menyebut Kariango sebagai kenangan terindah. Di Markas Brigade Infanteri (Brigif) Para Raider 3/Tri Budi Sakti (TBS), Maros, Sulawesi Selatan (biasa disebut Brigif Kariango) itulah keduanya disatukan pada bentang waktu pengabdian 2006 – 2008.
Doni Monardo berpangkat kolonel, menjadi Komandan Brigade. Sedangkan, AM Putranto, berpangkat Letnan Kolonel, menjadi Kepala Staf Brigade.
AMP menggambarkan, betapa “berantakan” kondisi Brigif saat mereka datang. Bukan saja tandus dan gersang, tetapi tumpukan sampah menggunung di sejumlah titik, dan menyebarkan aroma tak sedap. Masih ditambah berbagai kasus “kenakalan” prajurit.
AMP ingat betul, hal pertama yang dilakukan Dan Brigif Doni Monardo adalah mendisiplinkan prajuritnya. Bukan latihan kesamaptaan, raider, latihan taktis, atau yang lain, tetapi membersihkan sampah di area brigade seluas 301 hektare itu.
“Saya ingat, dalam dua bulan tak kurang dari 350 rit truk sampah kami keluarkan dari markas brigif. Sampai-sampai anggaran bensin habis untuk mengangkut sampah,” kenang AMP.
Setelah bersih, barulah dilakukan penghijauan dengan penanaman trembesi. Disiplin personil juga ditingkatkan. Kualitas SDM dibangun dengan menghidupkan aktivitas masjid dan gereja.
Sejak itu, markas Brigif Kariango menjadi bersih dari sampah. Namun apa daya, persoalan tidak berhenti sampai di situ. Habbit membuang sampah sembarangan, masih belum hilang. Termasuk kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan.
Langkah penertiban berikutnya diberlakukan peraturan, setiap prajurit –terutama yang merokok– wajib mengantongi kaleng bekas semir. Selesai merokok, matikan dan simpan puntungnya di kaleng semir, untuk nanti dibuang di tempat sampah.


