LHOKSEUMAWE,ACEH,TERMINALNEWS.CO-| Di tengah tekanan harga minyak global dan ancaman perubahan iklim, secercah harapan justru tumbuh dari desa-desa Indonesia. Program berbasis energi terbarukan tak hanya menghadirkan listrik ramah lingkungan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi warga bahkan di wilayah yang sempat terpukul bencana.
Salah satu contoh datang dari Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Aceh. Melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) yang digagas Pertamina, masyarakat kini memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp dengan baterai 10 kWh untuk mendukung operasional tambak.
Energi bersih ini digunakan untuk menggerakkan aerator dan mesin pakan, yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas hingga 40 persen. Dampaknya langsung terasa: pendapatan warga meningkat hingga Rp6–8 juta per bulan.
Ujian berat sempat datang saat bencana melanda Sumatra dan Aceh pada 2025, yang menghancurkan tambak dan hasil panen warga. Namun berbeda dari sebelumnya, masyarakat kini memiliki daya tahan lebih kuat. Infrastruktur PLTS tetap beroperasi, menjadi fondasi kebangkitan ekonomi pascabencana.
“Paskabanjir, kami sempat kehilangan segalanya. Berkat dukungan program ini, kami bisa bangkit kembali,” ujar Muhrizal, salah satu penggerak lokal budidaya udang vaname.
Secara agregat, program DEB memberikan nilai ekonomi hingga Rp5,5 miliar per tahun dan berkontribusi pada penurunan emisi sebesar 1,09 juta ton CO₂e per tahun angka yang signifikan dalam upaya transisi energi nasional.


