mBah Coco, mencoba mencatat jejak para pengurus sepak bola, bernama PSSI, sejak pergantian Agum Gumelar ke Nurdi Halid (2003 – 2011). Saat itu, PSSI dominan dikelola secar kartel mafioso, ketimbang mencetak pembinaan berjenjang. Dampaknya, Nurdin Halid dilengserkan dengan cara-cara brutal.
Periode 2011 – 2015, ketika Nurdin Halid diruntuhkan oleh Djohar Arifin dan Farid Rahman, juga membuat blunder yang memalukan. Duet Djohar – Farid, ternyata hanya “boneka”-nya Arifin Panigoro. Maka, sisa-sisa rezim Nurdin Halid, pelan-pelan digulingkan dengan sangat mudah oleh La Nyala Mattalitti.
Nggak sampai seumur jagung, sepak terjang La Nyalla Mattalitti, dipermalukan oleh alat negara, ketika Menpora Imam Nahrawi, membekukan organisasi PSSI, 18 April 2015, menjelang Kongres PSSI di Surabaya.
Satu tahun PSSI dibekukan oleh pemerintah. Nongol pengurus baru dibawah komando Edy Rahmayadi, dalam Kongres PSSI, 10 November 2016 di Mercure, Ancol, Jakarta.
Versi mBah Coco, sisa-sisa rezim mafioso kartel Nurdin Halid, kembali menguasai kepengurusan PSSI, hingga Edy Rahmayadi sebagai ketum PSSI 2017 – 2021, dijadikan “boneka” para mafioso dibawah kommmando Joko Driyono, Iwan Budianto, Haruna Sumitro, Pieter Tanuri dan Ferry Paulus. Hingga, akhirnya Kongres PSSI 2019 digelar, setelah Edy Rahmayadi mengundurkan diri, gara-gara menang sebagai Gubernur Sumatera Utara.
Iwan Bule, jenderal bintang tiga polisi, ujug-ujug nyodok ingin menjadi ketum PSSI. Cita-citanya Komjen Pol Mohammad Iriawan, yang lebih dikenal dengan nama Iwan Bule, untuk ikut-ikutan jejak Edy Rahmayadi, yaitu sebagai calon Gubernur Jawa Barat, akhirnya kena “angkara murka” alam semesta.


