JEMBER,TERMINALNEWS.CO -| Permainan tradisional ternyata belum kehilangan relevansinya di tengah derasnya arus digital. Di Ledokombo, Jember, egrang justru hadir sebagai pengingat bahwa anak-anak tetap membutuhkan ruang bermain nyata, bukan hanya layar dan koneksi internet.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut permainan egrang sebagai “tombol jeda” bagi anak-anak dari tingginya intensitas hidup di ruang digital. Menurutnya, permainan fisik mampu menghadirkan kembali keseimbangan emosional, interaksi sosial, hingga kesehatan mental anak.
Dalam peluncuran Festival Egrang ke-14 di Ledokombo, Jember, Jawa Timur, Nezar menilai anak-anak saat ini hidup di era ketika teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan ruang hidup sehari-hari. Indonesia sendiri kini memiliki tingkat penetrasi internet mencapai 80,26 persen populasi dengan sekitar 230 juta masyarakat telah terkoneksi internet.
Di tengah situasi itu, permainan tradisional seperti egrang dinilai menjadi ruang penting untuk mengembalikan anak pada pengalaman sosial yang nyata. Anak-anak belajar menjaga keseimbangan, bekerja sama, hingga membangun keberanian lewat aktivitas sederhana yang dilakukan bersama.
“Jatuh, bangun lagi” menjadi filosofi yang dianggap lahir secara alami dari permainan tersebut. Dalam egrang, anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar menghadapi kegagalan tanpa rasa takut dan saling memberi semangat ketika terjatuh.
Nezar juga menegaskan pelindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya melalui regulasi platform digital semata. Menurutnya, penguatan keluarga, komunitas, dan ruang interaksi sosial di dunia nyata harus berjalan beriringan dengan penerapan PP TUNAS atau Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak.


