Festival Egrang Ledokombo pun dipandang bukan sekadar agenda budaya, melainkan ruang sosial yang membantu anak-anak tetap tumbuh sehat secara emosional di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Di saat banyak permainan tradisional mulai tersisih oleh layar ponsel, egrang justru mengingatkan bahwa kebahagiaan anak kadang lahir dari sesuatu yang sederhana: sepasang bambu, tawa bersama teman, lalu keberanian untuk bangkit setelah jatuh.[*]


