Langkah ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa pemain muda tidak hanya menjadi pelengkap di bangku cadangan, tetapi benar-benar mendapatkan menit bermain yang cukup guna menambah pengalaman serta mengembangkan kemampuan teknis dan mental bertanding.
“Kita tidak ingin pemain muda hanya menjadi pelengkap di bangku cadangan. Mereka harus tumbuh melalui pengalaman nyata di lapangan, sehingga jam bermain mereka bertambah, skill dan mentalnya juga meningkat,” jelas Erick.
Kebijakan ini, menurut Erick, menjadi penting menjelang sejumlah agenda internasional yang melibatkan tim nasional kelompok umur, seperti Kualifikasi Piala Asia U-23 dan SEA Games.
Ia berharap, dengan lebih banyaknya pemain muda tampil di level klub, pelatih timnas dapat memiliki lebih banyak pilihan pemain yang siap secara teknis dan mental.
Permintaan Erick Thohir ini sejalan dengan arah kebijakan PSSI yang saat ini tengah fokus melakukan transformasi menyeluruh terhadap sistem kompetisi sepak bola nasional.
Salah satu fokus utama dalam transformasi ini adalah pembangunan fondasi kuat di level usia muda dan optimalisasi peran klub dalam pengembangan pemain lokal.
Sebelumnya, regulasi pemain asing di I League memungkinkan setiap klub untuk memiliki maksimal delapan pemain asing, dengan seluruhnya dapat diturunkan secara bersamaan dalam pertandingan.
Namun, dalam beberapa forum diskusi dengan pelatih tim nasional dan pengamat sepak bola, muncul kekhawatiran bahwa dominasi pemain asing dalam laga-laga kompetisi domestik dapat menghambat perkembangan pemain lokal.


