Cerita Tragis, Ritual Mistis, dan Nuansa Bali 1930-an
Samsara mengambil latar Bali pada era 1930-an dan mengikuti kisah seorang pemuda dari keluarga miskin yang cintanya ditolak keluarga perempuan pujaannya. Putus asa, ia membuat perjanjian gaib dengan Raja Monyet demi meraih kekayaan. Namun keputusan itu justru membawa petaka, mengutuk istri dan anaknya dalam penderitaan.
Film ini memadukan unsur budaya Bali seperti gamelan, tari tradisional, topeng, dan wayang, lalu menyelaraskannya dengan unsur kontemporer berupa musik elektronik dan koreografi modern—ciri khas pendekatan artistik Garin Nugroho.
Kini Bisa Disaksikan Lebih Luas
Dengan jadwal rilis nasional yang resmi, Samsara akhirnya ‘pulang’ ke penonton Indonesia setelah perjalanan internasionalnya. Mulai 20 November, masyarakat dapat menyaksikan film penuh simbolisme ini di jaringan bioskop besar.


