Intinya, semua pemain fokus dan sepaham sekomitmen, memenangkan pertandingan laga lolos ke semi final. Sesuai, dua target yang berbeda, dari Erick Thohir dan STY. Yang satu minta bisa lolos 8 besar, sesuai keinginannya, dan STY berharap pemainnya, juga lolos ke semi final, sesuai keinginannya.
Sampai di sini, versi mBah Coco, ceritanya akan berbeda.
Ketika, semua penggila bola, semua ofisial, dan bahkan Presiden Jokowi pun, berharap dan memberi target, bisa melenggang ke Olimpiade Perancis, 26 Juli – 11 Agustus 2024. Versi mBah Coco, ada perubahan mental dan fisik, saat menghadapi Uzbekistan.
Tidak ada yang memberi motivasi kepada para pemain Indonesia U-23, bahwa lawan yang dihadapinya, Uzbekistan, punya 10 pemain, di luar kiper, yang sudah mencetak gol sejak di penyisihan grup D. Dan, tak pernah kebobolan sama sekali.
Sedangkan, Indonesia U-23, dipastikan saat menghadapi Uzbekistan, kehilangan Rafael Stuick, pencetak dua gol saat menghadapi Korsel di babak 8 besar.
Tidak ada yang memberi motivasi, bahwa 10 pemain starter line up inti Uzbekistan U-23, sudah mampu mencetak gol semuanya. Sedangkan, Indonesia U-23, binggung dan terkesan nggak percaya diri, setelah Rafael Struick absen, terkena akumulasi dua kartu kuning. Seolah-olah, pemain depan Indonesia, hanya milik Rafael Struick.
Terkesan, versi mBah Coco, Indonesia U-23 kalah sebelum bertanding. Maka, mental bertanding pun juga runtuh. Hasilnya terlihat secara kasat mata di tivi. Passing salah, penerima operan salah. Kalah adu badan sepanjang 90 menit. Kalah speed dalam perebutan bola. Ompong dalam bertahan, tumpul masuk di kotak penalti.


