Apakah ini yang disebut mBah Coco, kalah dalam mempertahankan mental dan fisik dalam 90 menit? Atau, ada faktor lain?
Sekali lagi, dalam format turnamen, dan turnamennya sekaliber Piala Asia. Maka, sejak awal, yang wajib dijadikan patokan, adalah mental dan fisik bertanding sepanjang mungkin, di tempat yang sama. Salah satu dampaknya, membosankan. Karena bertanding itu, bukan piknik atau wisata.
Dalam ilmu psikologi, ketika kumpulan orang bertujuan untuk menghadapi tantangan, dalam satu wadah. Semua orang yang disepakati sudah menjadi satu. Wajib, satu motivasi, satu misi visi yang sama, punya tekad yang sama, dan satu mental dan fisik yang sama.
Jika, ada yang tidak bisa menjadi sebuah satu kesatuan, semuanya akan bubrah dan ambyar.
Dan, itu sudah dipertontonkan di dalam tim Indonesia U-23.
Benarkah ofisial Indonesia U-23, lupa? Dari hasil riset mBah Coco, bahwa pacar-pacar pemain naturalisasi, dan juga keluarganya, ternyata diajak datang atau punya inisiatif ke Doha. Sedangkan, pemain-pemain “pribumi”, tidak terlihat ada yang datang, sejak penyisihan hingga partai semi final.
Perlukah?
Masih ingat, negara-negara yang selalu membawa heboh viral di luar lapangan bola. Jika, lolos ke putaran final World Cup atau Piala Eropa. Misalkan, Inggris. Rombongan WAGs – wivies and girlfrieds (istri dan pacar pemain), ikut diajak hingga turnamen selesai. Begitu pula, tim Brazil, Argentina, Jerman, Perancis selalu membawa WAGs.
Tujuannya?
Bayangkan, dua minggu sebelum pertandingan, sudah meninggalkan keluarga, istri dan pacar. Tiga minggu berikutnya, juga masih berada di hotel dan latihan sebagai kesatuan grup kesebelasan. Jika, tidak bisa mengatur waktu, hanya melulu ketemuan mereka-mereka doang. Bosan nggak? Pasti jawabnya bosan, cing!


