Ketetapannya untuk back to basic didorong oleh ekses pendangkalan-pendangkalan estetika karena tidak disertai dengan suatu pencarian yang mendalam, hanya sekadar ikut-ikutan.

Ki Warseno mendedikasikan segala kemampaun berkeseniannya untuk menegakkan moral sebagai makhluk Tuhan.
Hal ini diwujudkan tidak saja dalam berkesenian namun dia merasa pula bertanggungjawab menyeberluaskan pandangan berkeseniannya itu dengan mendirikan sebuah Stasiun Radio Suara Slank yang acaranya didominasi kesenian dan kebudayaan Jawa.
Di sela kepadatan jadwal mengajar dan mendalang, setiap malam Sabtu Legi Warseno mengadakan pementasan wayang kulit di rumahnya untuk mengenang hari kelahirannya dengan tajuk Setu Legen.
Meski kondang sebagai dalang wayang sejatinya Ki Warseno adalah sarjana pertanian, lulus S1 dari Universitas Tunas Pembangunan Solo. Bahkan dia menyelesaikan pendidikan sampai tingkat doktor di UNS Solo.
Warseno meninggalkan seorang istri Asih Purwaningtyas dua anak dan seorang cucu.
Pemakaman almarhum dilakukan pukul 13.00 WIB di makam Depokan Juwiring Klaten.
Berangkat dari rumah duka di Griya Duhkito, Kranggan RT 02/18 Makam Haji Kartasura Sukoharjo.
Sugeng tindak Pak Dalang, swargi langgeng. (DaBon)


