Konsekuensi dari dikeluarkannya Pertina dari KOI cukup signifikan. Menurut Oktohari, organisasi tersebut tidak lagi memiliki kewenangan untuk mengirimkan atletnya ke ajang internasional yang berada di bawah naungan IOC.
“Dengan status ini, Pertina tidak dapat lagi mengirimkan atlet untuk kejuaraan internasional. Semua urusan tinju Indonesia untuk sementara akan ditangani oleh KOI langsung,” katanya.
KOI akan mengambil alih sementara peran yang ditinggalkan Pertina, terutama terkait pembinaan dan pengiriman atlet ke berbagai ajang internasional.
Untuk itu, KOI akan berkoordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta stakeholder terkait lainnya untuk menentukan langkah lanjutan.
“Beberapa kejuaraan besar seperti SEA Games, Asian Youth Games, dan Asian Games akan segera berlangsung. Kami tidak ingin atlet-atlet tinju Indonesia kehilangan kesempatan tampil. Maka kami akan menjalin koordinasi dengan semua pihak agar proses seleksi dan pengiriman atlet tetap berjalan,” ujar Oktohari.
Terkait kemungkinan pembentukan organisasi tinju baru di Indonesia yang bisa diakui IOC, Oktohari menyebut pihaknya masih akan melakukan konsultasi dan sinkronisasi lebih lanjut dengan World Boxing dan IOC.
“Tentu kita ingin mencari solusi terbaik. Kita akan berkoordinasi dengan IOC agar federasi baru yang nanti menangani tinju Indonesia dapat diakui secara resmi, sehingga para atlet kita tetap bisa bersaing di level dunia,” tegasnya.
Menurut Oktohari, sinyal perubahan arah kebijakan IOC dalam cabang olahraga tinju ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak September 2024, ketika berbagai dinamika mencuat di tingkat global.


