“Setiap kejahatan harus terus dikumandangkan pencegahannya. Jadi sikap KPK untuk mengadakan pendidikan, pencegahan, dan penindakan itu satu konstruksi yang baik sekali, meminimalisir penindakan korupsi di Indonesia. Kita semua berharap, kita doakan agar para pejabat Indonesia khususnya, dan semua orang-orang, takut untuk melakukan korupsi. Kita doakan agar mereka semua tidak suka kepada rompi oranye,” tegas Rhoma.
Angklung sebagai Simbol Kebersamaan dan Keharmonisan
Ketua Angklung Perempuan Indonesia, Effy Kuswita, menyampaikan rasa bangganya bisa bersinergi dengan KPK dalam gerakan antikorupsi.
“Bagi kami, angklung bukan sekadar alat musik. Ini adalah simbol kebersamaan dan keharmonisan. Sama seperti membangun negeri ini, setiap orang punya peran penting, dan semuanya harus bergerak dalam satu irama: irama kejujuran, irama integritas,” tuturnya.
Setelah memukau penonton dalam Pagelaran Seni Musik Angklung, sekitar 100 anggota API melanjutkan semangat mereka dengan mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Perempuan Antikorupsi. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang bermakna untuk menggali peran strategis perempuan dalam membangun budaya antikorupsi—baik di lingkup keluarga, komunitas, hingga masyarakat luas.
Hadir dalam kegiatan ini antara lain Ketua Dewan Pengawas KPK Gusrizal; anggota Dewan Pengawas KPK Benny Jozua Mamoto, Chisca Mirawati, dan Sumpeno; Direktur Peran Serta Masyarakat KPK Kumbul Kusdwidjanto Sudjadi; Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK Amir Arief; Direktur Jejaring Pendidikan pada Kedeputian Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK Dian Novianti; serta Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati Iskak.


