YOGYAKARTA,TERMINALNEWS.CO -| Gelombang dukungan terhadap pengusulan Sri Sultan Hamengku Buwono II sebagai Pahlawan Nasional terus menguat, melintasi batas generasi dan latar belakang. Dari ruang akademik hingga komunitas pelajar, suara yang sama digaungkan: negara perlu segera memberi pengakuan atas jejak perlawanan seorang raja yang memilih berdiri tegak di tengah tekanan kolonialisme.
Di Yogyakarta, dukungan itu tidak sekadar simbolik. Ia menjelma menjadi gerakan kolektif yang terartikulasikan dalam petisi, forum ilmiah, hingga pernyataan sikap lintas elemen. Budayawan, akademisi, dan trah keluarga kerajaan menyatu dalam satu narasi: bahwa Sultan HB II adalah representasi awal nasionalisme yang lahir dari keberanian menolak dominasi asing.
Sosok Sultan HB II bukan hanya pemimpin administratif kerajaan, melainkan figur yang menghidupkan etos resistensi. Dalam catatan sejarah, ia berkali-kali dilengserkan oleh kekuatan kolonial Belanda dan Inggris sebuah konsekuensi dari sikapnya yang menolak kompromi. Namun, justru dari titik itu, integritasnya menemukan makna paling utuh: kekuasaan bukan tujuan, melainkan alat untuk menjaga martabat bangsa.
Peristiwa Geger Sepehi menjadi salah satu penanda penting. Ketika Keraton Yogyakarta diserbu pada 1812, Sultan HB II tidak memilih mundur ke balik simbol kekuasaan, melainkan tampil sebagai pemimpin yang memobilisasi perlawanan. Dalam konteks ini, sejarah tidak hanya mencatat kekalahan militer, tetapi juga keberanian moral yang melampaui zamannya.


