JAKARTA,TERMINALNEWS.CO — Di tengah ambisi Jakarta menjadi kota global yang hijau, inklusif, dan berkelanjutan, proses relokasi pedagang dari Lokasi Sementara (Loksem) Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi sorotan sebagai ujian nyata atas komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam mewujudkan keadilan ruang kota.
Relokasi yang dijadwalkan mulai 3 Agustus 2025 ini merupakan bagian dari agenda penataan kawasan taman kota dan ruang terbuka hijau. Namun, di balik deretan gerobak, sangkar burung, dan kios-kios kuliner, tersimpan cerita tentang penghidupan, harapan, dan masa depan ratusan warga yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup di sepanjang Jalan Barito.
“Kota yang tertata bukan hanya soal estetika. Ini soal apakah pembangunan mampu merangkul mereka yang hidup di pinggir pusaran arsitektur kota,” ujar Muhammad Anwar, Wali Kota Jakarta Selatan, dalam konferensi pers, Jumat (1/8).
Pemkot Jakarta Selatan menjanjikan pendekatan bertahap, kolaboratif, dan tanpa paksaan. Para pedagang diberi kebebasan memilih lokasi usaha baru, baik di wilayah Jakarta Selatan maupun di pasar-pasar lain yang dikelola Perumda Pasar Jaya. Pemerintah juga menyiapkan kendaraan untuk memudahkan perpindahan barang dagangan.
Bukan Sekadar Pindah Tempat, tapi Pindah Kehidupan
Relokasi ini menyentuh sedikitnya 137 kios, yang terdiri dari 85 kios hewan peliharaan dan pakan, 18 kios buah, serta 34 kios kuliner. Sementara pedagang buah dan kuliner diarahkan ke pasar-pasar seperti Pondok Labu, Tebet, Mampang, dan Bata Putih, para pedagang burung akan dipindahkan ke Lenteng Agung sebagai lokasi sementara — menunggu lokasi permanen di kawasan Jagakarsa yang masih dalam tahap perencanaan.


