Salah satunya Yosefa Kiki Nayah Sari. Di sela kesibukan bekerja, ia meluangkan waktu berjam-jam untuk menenun.
“Seru kalau menenun ramai-ramai di ruai. Kalau teman menenun, saya jadi ikut semangat,” katanya.
Harapannya sederhana: semakin banyak generasi muda yang bergerak, semakin terjaga pula nilai wastra warisan leluhur.
Festival Tenun Iban Sadap bukan hanya perayaan budaya. Ia adalah gerakan untuk memulihkan hubungan antara manusia, pengetahuan leluhur, dan alam.
Di tangan para penenun, benang bukan sekadar bahan ia adalah memori, doa, dan masa depan.|Foto : Istimewa.


