TEL AVIV, TERMINALNEWS.CO – Sekitar setengah dari hampir 300 rudal balistik yang diluncurkan Iran ke Israel dalam perang yang sedang berlangsung membawa hulu ledak bom klaster. Hal ini berdasarkan penilaian militer yang dirilis oleh Israel Defense Forces pada Selasa (11/3/2026).
Data tersebut muncul sehari setelah amunisi tersebut menewaskan dua orang dan melukai satu orang lainnya secara serius di wilayah Israel tengah.
Militer Israel menyebutkan bahwa Iran masih terus menembakkan rudal ke wilayah Israel. Pada Selasa, sebagian besar rudal berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel.
Namun, satu rudal yang membawa hulu ledak besar meledak di area terbuka di luar Beit Shemesh, dekat Jerusalem. Berdasarkan rekaman video dan laporan petugas pertama di lokasi, tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.
Bahaya Bom Klaster
Hulu ledak bom klaster dapat menyebarkan puluhan submunisi secara acak di area luas. Setiap submunisi biasanya berisi beberapa kilogram bahan peledak dan dapat menyebar dalam radius sekitar 10 kilometer.
Pejabat militer Israel menyatakan bahwa pencegatan rudal semacam ini cukup efektif, tetapi tetap menantang. Mereka menegaskan bahwa sistem pertahanan udara Israel tidak sepenuhnya kedap terhadap serangan.
Menurut laporan Amnesty International, Iran juga pernah menembakkan amunisi klaster ke Israel setidaknya tiga kali selama perang 12 hari antara kedua negara pada Juni lalu. Temuan tersebut didasarkan pada analisis foto, video, dan laporan media.
Penggunaan bom klaster sendiri dilarang berdasarkan Convention on Cluster Munitions tahun 2008. Perjanjian ini telah ditandatangani oleh lebih dari 100 negara, termasuk banyak negara di Eropa dan Afrika, serta Inggris, Australia, dan Kanada.
Namun, Israel, Iran, dan Amerika Serikat tidak termasuk di antara penandatangan perjanjian tersebut.


