Ia menjelaskan, banyaknya talenta yang muncul di MLSC Surabaya Seri 2 membuat tim pelatih harus melakukan seleksi lebih ketat untuk menentukan pemain yang layak masuk skuad MilkLife Soccer Challenge All Star.
Para pemain terpilih nantinya akan mengikuti pemusatan latihan sebelum berangkat ke Kudus pada pertengahan Juni mendatang.
Jacksen mengatakan, para pemain yang sebelumnya lolos dalam program Extra Training Seri 1 akan kembali dikumpulkan untuk menjalani latihan bersama.
Dari proses tersebut, tim pelatih akan menentukan pemain terbaik yang siap bersaing di tingkat lebih tinggi.
“Harapan kami, anak-anak ini berkembang bukan hanya secara individu tetapi juga sebagai tim. Kami ingin mereka memiliki pengalaman bermain yang cukup agar mental dan kualitas mereka semakin matang,” katanya.
Menurut Jacksen, penyelenggaraan MilkLife Soccer Challenge bukan sekadar turnamen rutin, tetapi bagian dari upaya membangun ekosistem sepak bola putri Indonesia secara berkelanjutan.
Kompetisi usia dini dianggap penting untuk meningkatkan jam terbang dan pengalaman bertanding para pemain muda.
Ia berharap para peserta tidak hanya berlatih saat kompetisi berlangsung, tetapi juga terus mengembangkan kemampuan melalui Sekolah Sepak Bola (SSB) di daerah masing-masing.
Dengan pola pembinaan berkelanjutan, kualitas sepak bola putri Indonesia diyakini akan semakin meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Panitia Pelaksana MilkLife Soccer Challenge 2025-2026, Edi Supriyanto, mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat Surabaya dan sekitarnya terhadap ajang tersebut.


