Warna juga menjadi bahasa simbolik dalam berbagai ekspresi budaya seperti ritual keagamaan, tekstil tradisional, dan seni pertunjukan.
Melalui pendekatan ini, buku “Warna Bali: Ketika Sistem & Pertemuan Menjadi Identitas” menawarkan cara pandang komprehensif dalam memahami identitas budaya Bali.
Acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Adi Prinantyo, serta perwakilan Yayasan Satya Djaya Raya, Osbert Lyman dan Tomi Pratomo.
Dalam sambutannya, Adi menegaskan bahwa buku ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan perspektif budaya yang lebih mendalam kepada masyarakat luas.
“Buku ini mengajak kita melihat warna tidak hanya sebagai sesuatu yang tampak, tetapi sebagai pintu masuk untuk memahami sistem nilai, sejarah, dan cara pandang yang membentuk kebudayaan,” ujarnya.
Peluncuran kemudian dilanjutkan dengan sesi bedah buku yang menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Mohammad Hilmi Faiq, I Wayan Seriyoga Parta, Putu Fajar Arcana, serta Mikke Susanto.
Diskusi ini mengulas berbagai perspektif mengenai warna dalam budaya Bali, mulai dari dimensi kosmologi hingga praktik seni rupa.
Mohammad Hilmi Faiq menyoroti pentingnya peran media dalam menjembatani pengetahuan budaya kepada publik.
Ia menilai buku ini menunjukkan bagaimana warna menjadi penghubung antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Oleh karena itu, penyampaian informasi budaya harus mampu menjaga kedalaman makna filosofisnya.
Sementara itu, I Wayan Seriyoga Parta menjelaskan bahwa warna dalam seni Bali tidak dapat dilepaskan dari sistem kosmologi.


