Konsep seperti Pangider Bhuwana, Nawa Sanga, dan Pancawarna menjadi dasar dalam memahami penggunaan warna dalam berbagai ekspresi budaya.
Ia juga menambahkan bahwa pengetahuan tentang warna diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi para seniman atau sangging.
Dalam karya seperti wayang Kamasan, pemilihan warna tidak dilakukan secara bebas, melainkan mengikuti aturan yang sarat makna simbolik.
Putu Fajar Arcana menegaskan bahwa warna dalam seni Bali memiliki dimensi sakral yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta.
Menurutnya, warna dalam berbagai karya seni tidak hadir secara kebetulan, melainkan membawa cerita dan simbol yang mencerminkan nilai budaya.
Dari perspektif seni rupa, Mikke Susanto menilai bahwa warna dalam tradisi Bali merupakan bagian dari sistem simbol yang terus berkembang.
Ia menyebut bahwa makna sakral yang melekat pada warna tetap relevan meskipun seni Bali kini juga dibaca dalam konteks seni kontemporer.
Diskusi yang berlangsung interaktif ini juga menyoroti tantangan globalisasi yang berpotensi menggeser makna simbolik budaya.
Para narasumber sepakat bahwa pemahaman yang utuh terhadap budaya menjadi penting agar nilai-nilai yang terkandung tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Melalui peluncuran buku ini, publik diajak untuk melihat warna tidak hanya sebagai unsur estetika, tetapi sebagai bagian dari sistem pengetahuan yang merekam sejarah, pertemuan budaya, serta nilai-nilai yang membentuk identitas Bali.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya pelestarian budaya sebagai fondasi dalam menghadapi dinamika global.


