Jadi Bumerang
Meski tujuan Washington dan Tel Aviv adalah melumpuhkan kemampuan nuklir Iran, seorang mantan analis Iran di militer Israel memperingatkan hasilnya bisa berbalik arah.
Danny Citrinowicz, mantan kepala cabang Iran di divisi riset intelijen militer Israel, mengatakan bahwa serangan pendahuluan tersebut justru membuktikan bahwa strategi “ambang nuklir” Khamenei tidak efektif.
Menurutnya, Iran kini hanya memiliki dua pilihan ekstrem:
-
Menghentikan sepenuhnya program nuklirnya
-
Atau mempercepat upaya membuat bom nuklir
Citrinowicz menilai opsi kedua lebih mungkin terjadi, terutama karena Iran kini dipimpin oleh putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang disebut bertekad membalas kematian ayah dan anggota keluarganya dalam serangan awal perang.
“Yang saya khawatirkan adalah perang ini bukan mencegah Iran memiliki bom nuklir, tetapi justru mempercepat rencana mereka untuk membuatnya,” kata Citrinowicz.
Negosiasi Nuklir Gagal Total
Citrinowicz menggambarkan perundingan nuklir yang berlangsung pada Februari lalu sebagai “dialog orang tuli”.
Amerika Serikat yakin Iran akan menyerah di bawah tekanan, sementara Teheran tetap bersikeras mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium.
Meski demikian, Menteri Luar Negeri Oman saat itu menyatakan Iran sebenarnya bersedia tidak menimbun uranium yang diperkaya dalam jumlah besar.
Menurut Citrinowicz, tawaran tersebut seharusnya menjadi titik kompromi yang cukup baik untuk mencegah Iran memproduksi senjata nuklir.
“Kesepakatan bisa mencegah Iran mendapatkan bom, tetapi sekaligus memperkuat rezimnya,” jelasnya.
“Sebaliknya, serangan militer melemahkan rezim, tetapi justru memperkuat tekad mereka untuk mendapatkan bom.”


