Uranium Jadi Kunci
Citrinowicz juga menilai keberhasilan perang sangat bergantung pada apakah Amerika Serikat dan Israel mampu merebut sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya tinggi milik Iran.
Bahan tersebut diyakini disimpan jauh di bawah tanah di fasilitas nuklir Isfahan. Jika uranium itu tidak berhasil disita, maka sulit menyebut perang ini sebagai keberhasilan strategis.
“Jika perang ini bertujuan mencegah Iran membuat bom nuklir, tetapi 440 kilogram uranium itu tidak disita, maka tidak ada keuntungan strategis,” katanya.
Selain itu, operasi merebut uranium tersebut tidaklah mudah. Pasukan besar kemungkinan harus menguasai wilayah sekitar fasilitas nuklir terlebih dahulu sebelum mencapai lokasi penyimpanan di bawah tanah.
Kepemimpinan Iran yang Baru Lebih Keras
Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran pada hari kedelapan perang juga dinilai dapat memperburuk situasi.
Menurut Citrinowicz, Mojtaba dianggap lebih dekat dengan Garda Revolusi Iran dan memiliki sikap yang lebih keras dibanding ayahnya.
“Sekarang kita menghadapi versi yang lebih ekstrem,” ujarnya. “Seseorang yang ingin membalas kematian anggota keluarganya.”
Israel diketahui tidak menutup kemungkinan mendorong perubahan rezim di Iran. Namun Citrinowicz skeptis skenario tersebut dapat berhasil.
Agar rezim jatuh, rakyat Iran harus kembali turun ke jalan dalam aksi protes besar. Namun sebelumnya puluhan ribu demonstran telah ditindak keras oleh aparat.
Selain itu, belum tentu kelompok oposisi bersedia mengikuti dorongan negara asing yang saat ini justru sedang menyerang Iran.


