Silviana yang juga tampil pada Olimpiade Seoul 1988 menyebut kehadiran atlet-atlet Asia dengan reputasi dunia menjadi kesempatan emas bagi atlet muda Indonesia untuk menambah pengalaman bertanding.
“Dengan adanya kejuaraan ini di Indonesia, atlet anggar kita punya kesempatan menambah jam terbang dan pengalaman melawan atlet-atlet dari Asia Pasifik,” kata Silviana.
Ia mengakui bahwa pada edisi kali ini atlet kadet dan junior Indonesia belum mampu berbicara banyak dalam perebutan medali. Namun, menurutnya, proses pembinaan membutuhkan waktu panjang dan konsistensi.
“Mereka sudah mendapat kesempatan bertanding dengan atlet-atlet dari China, Hong Kong, dan Korea Selatan yang selama ini memiliki prestasi di tingkat dunia. Mencetak atlet berprestasi itu butuh proses panjang,” ujarnya.
Silviana juga menyatakan kesiapan untuk membantu pembinaan apabila dibutuhkan. Kehadiran legenda anggar tersebut di arena pertandingan selama kejuaraan berlangsung menjadi bentuk dukungan moral bagi generasi muda.
Kejuaraan Anggar Kadet dan Junior Asia 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana evaluasi bagi PB IKASI dalam mengukur perkembangan atlet muda nasional. Dengan persaingan ketat dari negara-negara kuat Asia, turnamen ini menjadi tolok ukur penting dalam peta kekuatan anggar kawasan.
Keberhasilan penyelenggaraan di Jakarta sekaligus mempertegas komitmen Indonesia dalam membangun olahraga berbasis pembinaan usia dini. Dukungan FCA dan FIE menjadi modal penting untuk mempercepat peningkatan kualitas atlet dan pelatih nasional.


