Rano menjelaskan, Pemprov DKI Jakarta telah menyusun langkah-langkah antisipatif dalam menghadapi potensi banjir, meskipun ketinggian air tidak dapat diprediksi secara pasti karena dipengaruhi curah hujan.
“Sebetulnya kami sudah mendesain apa yang akan dilakukan apabila terjadi banjir seperti ini. Kami sudah memprediksi banjir akan terjadi, hanya saja tingkat ketinggiannya tidak bisa dipastikan karena faktor curah hujan,” kata Rano.
Ia juga mengapresiasi kerja jajaran Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta dan seluruh petugas lapangan yang bekerja hingga dini hari untuk mengendalikan genangan. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam penanganan banjir.
“Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat harus berjalan bersama-sama untuk menanggulangi banjir. Itu kuncinya,” tegasnya.
Terkait penanganan jangka panjang, Rano menegaskan normalisasi sungai tetap menjadi salah satu solusi utama, termasuk pada Sungai Ciliwung dan Kali Krukut. Namun, ia mengingatkan bahwa program tersebut membutuhkan waktu panjang dan proses sosial yang tidak sederhana.
“Normalisasi sungai merupakan pekerjaan jangka panjang dan tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Tantangannya bukan hanya pembebasan lahan, tetapi juga sosialisasi kepada masyarakat, termasuk kesiapan untuk tinggal di rumah susun,” ujarnya.
Untuk jangka pendek, Pemprov DKI Jakarta terus mengoptimalkan berbagai upaya, termasuk operasi modifikasi cuaca bekerja sama dengan BMKG dan TNI Angkatan Udara, serta pengoperasian pompa air di titik-titik rawan banjir. Selama periode cuaca ekstrem, sebanyak 779 unit pompa mobile dan stasioner dikerahkan untuk mengurangi genangan.[]


