
Ia mencontohkan di Myanmar itu teroris beragama Budha, di Selandia Baru teroris yang menembaki umat Islam yang sedang Salat Jumat beragama Kristen.Pun di India, teroris beragama Hindu. Dan karena di Indonesia mayoritas beragama Islam, sehingga kebanyakan teroris di Indonesia beragama Islam.
“Seperti yang saya katakan tadi. Tidak ada agama apapun yg mempromosikan terorisme yang ada adalah oknum-oknum di agama tersebut,” tukasnya.
Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini melanjutkan bahwa saat ini mengungkapkan terjadi pergeseran. Di masa lalu, laki-laki adalah aktor utama terorisme. tapi kini kaum perempuan dan anak-anak justru yang dimanfaatkan. Contohnya kasus bom keluarga di Surabaya, kemudian di Gereja di Makassar, dan di Sibolga. Juga Zakiah Aini yang menyerang Mabes Polri, serta kasus Dita yang mau membom Istana Negara.
Menurutnya, anak anak yang terpapar tidak bisa disalahkan 100% karena mereka berada di dunia baru yang luas dan bebas secara informasi. Maka dari sebagai guru harus mampu mendukung dan mengawasi para siswa untuk memfilter informasi yang masuk ke dalam pengetahuan anak.
“Teroris ada karena adanya radikalisme, maka itu pendidikan kita utamakan karena hanya pendidikan dan agama yang mampu mencegah seseorang untuk memiliki paham radikal, namun demikian ada juga faktor kekecewaan lalu ekonomi dan lain sebagainya,” paparnya.


