“Ciri pertama ketika ada orang yang berpikiran ingin mengganti Pancasila dengan kitab suci. Contohnya kalau orang Islam mengganti dengan Alquran, Kristiani mengganti Injil, dan Hindu dengan Weda, dan sebagainya,” jelasnya.
Ciri kedua, lanjutnya, ketika ada orang ingi menggantikan NKRI jadi khilafah. Ketiga intoleran. yaitu orang yang selalu menilai orang lain salah, suka bidah, mengkafirkan,dan tidak mau menerima kearifan lokal. Keempat menghalalkan kekerasan.
Sementara itu, Wakil Pengasuh Ponpes Darussalam KH Ali Asyiqin sebagai tuan rumah menyambut baik kegiatan ini. Ia berterima kasih kepada BNPT dan seluruh guru yang hadir. Ia yakin kegiatan ini akan memberikan sesuatu yang luar biasa dalam mendidik masyarakat dan anak didik tentang intoleransi, kekerasan, dan bullying.
“Misi Sekolah Damai dengan Pelatihan Guru dan Siswa ini sangat mulia dan simpel untuk bersinergi karena semua pendidikan baik di pondok maupun umum. Karena semua pendidikan tujuannya adalah ubudiyah,” katanya.
Kiai Ali menambahkan seorang santri harus punya hati yang bersih dan niatan yang baik. “Bila qolbu atau hati sudah terpatri, insyah Allah misi kita akan tercapai yaitu menolak paham intoleransi, kekerasan, dan bullying,” katanya.
Kegiatan hari pertama ini dihadiri Pengasuh Ponpes Darussalam Blokagung KH Ahmad HIsyam Syafaat, Ketua Yayasan Darussalam Blokagung KH Muhammad Hasyim Syafaat, Pengasuh Ponpes Putri Darussalam Blokagung Ny. Hj. Handariyatul Masruroh Syafaat. Sedangkan narasumber lain Ketua Tim Tenaga Kependidikan Kantor Kemenag Prov Jatim Dr Arini Indah Nihayaty, MSi,. Direktur Damar Istitute M Suaib Tahir, Lc, MA, PhD, mantan napiter Abu Fida, dan Nurin Baroroh S.Psi., M.Psi ( Dosen dan Psikolog Universitas Pangeran Diponegoro).


