“Sejak bencana, warga sangat membutuhkan ponsel untuk berkomunikasi, apalagi dalam kondisi darurat seperti ini. Kami hanya berusaha membantu sebisanya dengan menyediakan fasilitas pengisian daya di luar kawasan kerja rig,” kata Surya.
Lebih dari Sekadar Pengisian Daya
Setiap malam, lebih dari seratus orang datang mengantre untuk mengisi daya. Mereka tidak hanya membawa ponsel, tetapi juga powerbank, senter, dan lampu darurat. Sejumlah warga bahkan membawa anak-anak untuk menunggu bersama sambil duduk di pinggir area. Kehadiran cahaya dari lampu darurat yang terisi penuh memberi rasa aman, terutama bagi anak-anak yang takut dengan kegelapan.
“Kalau malam gelap sekali, anak-anak jadi takut. Lampu darurat ini sangat membantu,” ujar Rahmad (45), warga Desa Alur Manis, sambil memegang lampu yang baru saja terisi penuh.
Bantuan Kemanuasiaan dan Kebutuhan Dasar
Selain membuka akses untuk pengisian daya, Pertamina Drilling juga memberikan bantuan kemanusiaan berupa makanan siap saji dua kali sehari, sembako, air bersih, dan air minum kemasan. Hal ini sangat berarti bagi warga yang terdampak, seperti yang diungkapkan oleh Yuliana (41), warga Desa Landu.
“Bantuan makanan dan air sangat berarti bagi kami di tengah keterbatasan ini. Setidaknya kami merasa ada yang peduli dan tidak merasa sendirian,” katanya.
Menjadi Simbol Harapan
Rig PDSI#19.1 kini bukan hanya sekadar fasilitas industri. Ia telah bertransformasi menjadi simbol harapan, tempat singgah bagi warga yang membutuhkan dukungan. Setiap malam, warga yang datang dengan harapan bisa mengisi daya, tidak hanya mendapat cahaya untuk ponsel mereka, tetapi juga mendapatkan secercah harapan di tengah bencana yang belum sepenuhnya berlalu.[]Sumber PT Pertsmina.


