Kini, giliran Claudia Emmanuela Santoso, pemenang The Voice of Germany 2019, yang membawa Seribu Tahun Cahaya ke panggung global. Ia mengisi versi Indonesia dan Inggris dengan warna vokalnya yang lembut dan berkarakter.
“Aku merinding waktu pertama kali dengar lagu ini,” ungkap Claudia. “Liriknya dalam banget, melodinya puitis dan penuh rasa.”
Musik yang Menyatukan Cinta dan Budaya
James menambahkan sentuhan khas pada tiap versi: angklung dan kolintang untuk versi Indonesia, koto dan shakuhachi di versi Jepang, serta efek outer space synth di versi Inggris. Hasilnya, lagu ini bukan sekadar karya cinta, tapi juga simbol kolaborasi lintas budaya dan generasi.

Pelajaran untuk Industri Musik
Bagi James, Seribu Tahun Cahaya bukan hanya lagu, tapi pesan edukatif bagi industri musik Indonesia.
“Banyak pihak masih belum memahami hak ekonomi di balik sebuah karya. Padahal, composer, arranger, musisi, hingga produser — semua punya hak yang harus dihormati,” tegasnya.
Dalam proyek ini, James mencatatkan dirinya memegang semua peran penting dalam rantai produksi musik: dari pencipta, penulis lirik, arranger, produser, hingga videografer.Melalui karya ini, ia berharap generasi muda lebih melek soal hak cipta dan keadilan ekonomi kreatif.
Dari “Lilin-Lilin Kecil” ke “Seribu Tahun Cahaya”
Nama James F. Sundah identik dengan melodi dan lirik yang mengalun lembut tapi bermakna dalam. Sejak “Lilin-Lilin Kecil” memenangkan Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada 1977, karya-karyanya tak pernah padam dari ingatan publik.


