Menurut Ayu, persiapan yang dilakukan tim sudah cukup matang, baik dari segi teknis maupun non-teknis. Ia optimistis tim putri mampu bersaing dan memberikan kejutan di ajang tersebut.
“Secara teori dan persiapan, kami sudah siap. Tinggal bagaimana kami mengeksekusi strategi di lapangan,” ujarnya.
Pelatih tim, Fandi Andika Ramadhani, menegaskan bahwa peran pemain senior sangat vital dalam pertandingan 3×3. Ia menyebut bahwa komunikasi dan pengambilan keputusan di lapangan sepenuhnya berada di tangan pemain.
“Ayu memiliki pengalaman yang sangat banyak sejak usia muda. Saya sudah berbicara dengan Ayu dan juga Biboy untuk menularkan pengalaman mereka, terutama soal komunikasi dan cara bermain di lapangan,” kata pelatih yang akrab disapa Coach Rama.
Ia menjelaskan bahwa dalam format permainan 3×3, peran pelatih lebih terbatas dibandingkan basket konvensional. Oleh karena itu, pemain dituntut untuk lebih mandiri dalam mengambil keputusan selama pertandingan berlangsung.
“Dalam 3×3, pelatih hanya berperan sebelum dan sesudah pertandingan. Saat di lapangan, pemainlah yang menentukan jalannya laga. Di sinilah peran pemain senior menjadi sangat penting sebagai penghubung strategi,” jelasnya.
Dengan persiapan yang matang, kombinasi pemain berpengalaman dan talenta muda, serta dukungan penuh dari federasi, Timnas Basket 3×3 Indonesia menatap Asian Beach Games Sanya 2026 dengan optimisme tinggi.
Ajang ini tidak hanya menjadi target prestasi jangka pendek, tetapi juga bagian penting dari proses pembentukan tim menuju Asian Games 2026 dan kompetisi internasional lainnya.


