“Yang senior seperti Dewa Budjana sudah punya dunia sendiri. Jadi ini benar-benar generasi baru, tapi ruhnya tetap Spirit,” tutur Eramono.
Aransemen Baru, Karakter Lama
Meski tampil dengan wajah baru, Eramono memastikan identitas Spirit tetap terjaga. Ia masih terlibat langsung dalam penggarapan aransemen.
“Materi dasarnya memang karya saya dulu. Jadi saya jaga betul. Kita perbarui sound-nya, tapi bukan menghilangkan karakter,” ujarnya.
Menurut Eramono, para personel muda justru cepat menyatu dengan warna musik Spirit. Mereka datang dengan referensi luas dari platform digital, sekaligus rasa hormat pada karya-karya lama.
Ia pun kerap mendengar cerita dari para personel yang sebelumnya hanya mengenal Spirit lewat YouTube.
“Mereka suka bilang, tiap tahun nonton Spirit di YouTube, sekarang kok bisa main bareng. Itu lucu sekaligus mengharukan,” katanya sambil tersenyum.

Menata Katalog Lama, Menyambut Masa Depan
Lewat Spirit 86 Reborn, Eramono juga ingin menata ulang katalog lama Spirit agar dikelola lebih profesional, termasuk soal royalti digital. Target awalnya adalah merapikan sekitar 10 lagu lama sebelum beranjak ke karya baru.
“Selama ini banyak yang memutar lagu Spirit. Saya berterima kasih. Tapi sekarang kita juga ingin belajar menikmati royalti secara resmi,” ujarnya.
Bagi Eramono, Spirit 86 Reborn bukan hanya proyek musik, melainkan proses estafet.
“Tugas saya sekarang mengantarkan generasi berikutnya. Kalau Spirit bisa hidup lagi dengan semangat baru, itu sudah cukup buat saya.”
Formasi Spirit 86 Reborn saat ini terdiri dari Eramono Soekarjo (keyboard), Markov Cornelius Sembel (saksofon), Moody Wijaya (bass), Adrian Eramono (rhythm guitar), Archieta Aditya (drum), dan Lili Amelia (vokal), di bawah naungan OHMYJAZZ! Management.


