“Di Surabaya ini atmosfer kompetitifnya terasa lebih kuat, lebih wani. Karakter pelarinya terasa lebih berani untuk push pace dan saling memacu satu sama lain. Bahkan cuaca panas Surabaya justru seperti menambah semangat para pelari untuk tampil lebih cepat,” ujar Adi.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana Suroboyo 10K tidak sekadar menjadi ajang olahraga rekreasi, tetapi juga wadah kompetisi yang serius bagi para pelari yang ingin mengukur kemampuan mereka.
Fenomena yang terlihat sepanjang perlombaan menunjukkan adanya perubahan budaya lari di Indonesia.
Jika sebelumnya lomba lari lebih identik dengan aktivitas gaya hidup sehat dan rekreasi, kini semakin banyak pelari yang menjadikan ajang lari 10 kilometer sebagai arena kompetitif untuk mencatatkan personal best dan meningkatkan performa.
Perubahan tren tersebut terlihat dari tingginya motivasi peserta untuk menyelesaikan lomba dengan catatan waktu terbaik.
Banyak pelari yang memanfaatkan event seperti Suroboyo 10K sebagai tolok ukur perkembangan latihan mereka sekaligus sarana untuk berkompetisi dengan sesama pelari.
Ketua Komisi Pemassalan PB PASI, Satyo Haryo Wibisono, menilai tingginya antusiasme peserta menjadi indikator positif bagi perkembangan olahraga lari nasional.
Menurutnya, kualitas kompetisi yang ditampilkan dalam Suroboyo 10K menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap olahraga lari terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Kami melihat kualitas kompetisi di Suroboyo 10K berjalan baik. Antusiasme peserta tinggi dan penyelenggaraan lomba mampu menghadirkan pengalaman berlari yang positif. Ini menjadi indikator bahwa budaya lari di Indonesia terus berkembang dan semakin diminati masyarakat,” kata Satyo.


