Bagi Irene, konsep seperti ini mencerminkan semangat kolaborasi yang menjadi dasar pembangunan ekonomi kreatif nasional.
“Acara seperti Pasar Malem Narasi menunjukkan bahwa kreativitas bisa menjadi perekat sosial sekaligus pendorong ekonomi,” ujarnya. “Ini bukan hanya tempat hiburan, tapi wadah pemberdayaan di mana pelaku kreatif lintas subsektor bisa berinteraksi, memperkenalkan karya, dan memperluas peluang usaha.”

Ekonomi Kreatif Sebagai Motor Pertumbuhan Baru
Wamen Irene menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen memperkuat 17 subsektor ekonomi kreatif — termasuk fesyen, kuliner, desain, dan musik — yang semuanya mendapat sorotan di ajang ini.
“Setiap karya lokal memiliki potensi besar untuk tumbuh dan berkontribusi pada perekonomian nasional,” tuturnya. “Kemenparekraf akan terus membuka ruang kolaborasi agar semakin banyak pelaku kreatif yang berkembang dan menjadikan ekonomi kreatif sebagai motor pertumbuhan berdaya saing global.”
Menurut Irene, keberhasilan acara seperti Pasar Malem Narasi juga menjadi bukti pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, swasta, dan komunitas. Dengan dukungan bersama, rantai nilai kreatif dapat bergerak lebih kuat, menciptakan lapangan kerja baru, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat kreativitas di Asia.
Kehadiran Tokoh dan Semangat Kolaborasi
Selain Wamen Ekraf Irene, acara ini juga dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid serta Founder Narasi Najwa Shihab, yang bersama-sama menyoroti pentingnya sinergi antara media digital, talenta muda, dan kebijakan pemerintah dalam memperluas dampak ekonomi kreatif.


