Berdasarkan data dari UNCTAD, World Investment Report 2024 and UNCTAD, Trends Monitor 48 menunjukkan bahwa seluruh sektor di Kawasan Asia-Pasifik telah menyumbang sebesar 40 hingga 50 persen dari total arus FDI dunia.
Sementara untuk sektor pariwisata, data dari fDi Intelligence, Financial Times, UN Tourism pada Februari 2025 menyatakan bahwa Kawasan Asia-Pasifik telah mengamankan 642 proyek FDI greenfield dari tahun 2018 hingga 2024 senilai 66,4 miliar dolar AS.
Potensi investasi tersebut menyoroti perlunya arah strategis yang jelas untuk memastikan bahwa arus modal masuk selaras dengan tujuan keberlanjutan jangka panjang.
Melalui Konferensi Regional Pariwisata PBB, Menteri Pariwisata Widiyanti berharap dapat memberikan kesempatan bagi para delegasi untuk bertukar ide tentang bagaimana kawasan Asia-Pasifik dapat mempercepat investasi hijau yang berdampak dari energi terbarukan di perhotelan hingga praktik pariwisata yang sadar lingkungan. Menurut dia, ada begitu banyak peluang untuk investasi yang mendukung planet dan ekonomi agar semakin inklusif dan berkelanjutan.
“Investasi hijau menawarkan potensi besar untuk melindungi ekosistem dan warisan budaya kita, meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan memberikan manfaat masyarakat jangka panjang,” kata Menteri Pariwisata.
Dalam sesi ini, Menteri Pariwisata Widiyanti meluncurkan pedoman investasi yang disusun oleh UN Tourism dengan judul “Tourism Doing Business: Investing in Indonesia”. Pedoman ini akan menjadi peta jalan untuk membantu investor menavigasi dan membuka potensi besar sektor pariwisata Indonesia yang berkembang pesat.


