Oleh : Cocomeo Cacamarica
Alam semesta tidak pernah berbohong. Alam semesta tidak pernah berpihak. Dan, alam semesta, versi mBah Coco, hanya memberi simbol-simbol isi bumi. Itulah jejak sepak bola nasional, yang tak pernah tertarik menyentuh dasar-dasar membangun, membina dan fokus mencetak pemain sepak bola.
PSSI sebagai induk organisasi cabang olah raga bernama sepak bola, doyan tertidur panjang, untuk cuek bebek memikirkan filosofi sepak bola. Bahwa, proses mencetak pemain berbakat, bertelenta, serta membangun pembinaan berjenjang dalam wadah kompetisi, dengan sehat dan jujur, benar-benar diabaikan.
Kini, alam semesta memberi tanda-tanda, bahwa sepak bola, sudah saatnya, tidak berpikir dan membangun kebijakan yang orientasinya, selalu jangka pendek…dan kemudian kembali bekerja untuk jangka pendek. Lupa, bekerja keras untuk membuat program jangka menengah dan jangka panjang.
Tragedi sepak bola primitif dalam wadah PON ke-21, yang berlangsung di Stadion Dimurthala, Banda Aceh, dalam babak 8 besar, antara tuan rumah Aceh vs Sulawesi Tenggara, Sabtu 14 September 2024, berakhir saat sang pengadil Eko Agus Sugiarto dihajar wajahnya, oleh bek tengah tim Sulteng, Rizki Saputra, hingga pingsan. Dan, kemudian viral di medsos.
Disaat FIFA sedang getol-getolnya membangun sepak bola sebagai hiburan yang super glamour, di belahan bumi Asia Tenggara, tepatnya di Indonesia, sepak bola masih menjadi ajang perkelahian, tawuran dan match fixing, yang tak ada hentinya.
PSSI dibawah komando Erick Thohir, lupa daratan. Hanya ngurus tim nasional. Dan, ogah-ogahan ngurus sepak bola pembinaan yang butuh fokus dan komitmen tinggi dari para pengurusnya, untuk mencetak wadah kompetisi yang sehat dan jujur, dari semua yang terkait dengan sepak bola. Yaitu, pelatih, pemain, wasit dan ofisial.


