TEHERAN, TERMINALNEWS.CO – Strategi nuklir yang selama puluhan tahun dijalankan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, berakhir tragis ketika ia tewas dalam serangan udara Israel pada hari pertama perang yang dilancarkan bersama Amerika Serikat terhadap Republik Islam Iran pada 28 Februari.
Selama bertahun-tahun, Khamenei menjalankan kebijakan “ambang nuklir”, yaitu mengembangkan kemampuan untuk membuat senjata nuklir tanpa benar-benar memproduksinya.
Strategi tersebut dimaksudkan untuk menjadi alat pencegah terhadap kemungkinan serangan dari Amerika Serikat dan Israel, sekaligus tetap mematuhi fatwa religius tahun 2005 yang melarang senjata nuklir.
Namun kebijakan tersebut tidak mampu melindungi Iran dari sanksi berat yang dijatuhkan Washington selama bertahun-tahun, baik di bawah pemerintahan Partai Demokrat maupun Republik. Hingga konflik terbaru, Teheran juga relatif berhasil menghindari konsekuensi militer langsung.
Situasi Berubah Drastis Usai Perang Pecah
Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, sebenarnya memiliki opsi untuk mencapai kesepakatan nuklir baru dengan Iran. Perjanjian tersebut dapat membatasi jalan Teheran menuju senjata nuklir.
Namun di sisi lain, pencabutan sanksi sebagai imbalan kesepakatan dinilai berpotensi memperkuat rezim Iran yang dianggap tidak stabil.
Karena tidak mempercayai niat Teheran, Trump akhirnya mengesahkan operasi militer bernama Operation Epic Fury, alih-alih melanjutkan putaran perundingan baru.
Dalam dua pekan terakhir, Amerika Serikat dan Israel melancarkan kampanye pengeboman besar-besaran terhadap berbagai target di Iran. Serangan tersebut mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah, dengan sejumlah negara Teluk juga menjadi sasaran balasan dari Iran.


