Kesempatan itu kembali dimanfaatkan dengan baik oleh Aziz Hidayat Tumakaka. Setelah meraih perunggu di President’s Cup Oceania G3, ia sukses melaju hingga final Australia Open yang berstatus Grade 2 (G2).
Aziz mengawali langkahnya dengan mengalahkan wakil Australia, Chau Nathan. Pada semifinal, ia menjalani pertarungan dramatis melawan atlet Hong Kong, Chau Ngai Long. Setelah melalui tiga ronde yang berlangsung sengit, Aziz memastikan tiket final sekaligus mengamankan medali perak.
Pada partai puncak, Aziz menghadapi wakil Brasil, De Moraes Giovanni Aubin. Pertandingan berlangsung ketat hingga ronde penentuan. Meski sempat menyamakan kedudukan setelah merebut ronde kedua, Aziz akhirnya harus puas sebagai runner-up setelah kalah tipis 12-14 pada ronde ketiga.
Raihan satu medali perunggu di WT President’s Cup Oceania G3 dan satu medali perak di Australia Open G2 menjadi pencapaian yang patut diapresiasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa atlet-atlet Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional sekaligus terus mengumpulkan poin penting menuju target besar pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dan SEA Games Kuala Lumpur 2027.
Perjalanan menuju panggung Asia memang masih panjang. Namun dari Gold Coast, Taekwondo Indonesia telah membawa pulang lebih dari sekadar medali: pengalaman, kepercayaan diri, dan keyakinan bahwa langkah menuju prestasi besar dibangun dari setiap pertandingan yang dijalani dengan penuh perjuangan.


