Karena itu, investasi pertahanan Indonesia harus diarahkan agar menghasilkan inovasi yang juga dapat dimanfaatkan pada sektor kesehatan, energi, transportasi, pendidikan, pertanian, dan ekonomi digital.
Selain itu, Budhi melihat peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk pertahanan ke kawasan Asia Tenggara, Afrika, Timur Tengah, dan Pasifik.
Produk seperti pesawat angkut, kapal patroli, kapal perang, radar, munisi, kendaraan tempur, hingga sistem drone dinilai memiliki daya saing yang cukup kuat untuk memasuki pasar global.
“Ekspor pertahanan tidak hanya meningkatkan devisa negara, tetapi juga memperkuat hubungan diplomatik dan pengaruh strategis Indonesia di dunia internasional,” katanya.
Menuju Defence Economy 5.0
Sebagai langkah ke depan, Budhi menawarkan konsep Defence Economy 5.0, yaitu integrasi antara sektor pertahanan, industri, teknologi digital, kecerdasan buatan, ekonomi hijau, dan pembangunan nasional.
Dalam konsep tersebut, pertahanan tidak lagi berdiri sendiri sebagai sektor keamanan, melainkan menjadi salah satu motor transformasi ekonomi Indonesia.
Menurutnya, terdapat lima sasaran utama yang harus dicapai, yaitu membangun kekuatan militer yang kredibel, memperkuat industri pertahanan nasional, mempercepat penguasaan teknologi strategis, meningkatkan ekspor pertahanan, serta menciptakan efek pengganda ekonomi bagi sektor-sektor lainnya.
“Keberhasilan pembangunan pertahanan tidak boleh hanya diukur dari jumlah kapal perang, pesawat tempur, atau rudal yang dimiliki. Kekuatan pertahanan yang sesungguhnya adalah kemampuan mengubah investasi pertahanan menjadi kekuatan ekonomi, teknologi, dan industri yang berkelanjutan,” tegasnya.


