
Kegagalannya mencegah ketidakadilan atas warga miskin terus menghantuinya. Puspa muak, Ia muak dengan wajah hukum di negeri ini.
Pukulan pertama muncul saat Puspa kalah dalam menangani perkara seorang nenek bernama Tumirah yang dituduh mencuri buah kakao milik perusahaan besar.
Padahal, Tumirah hanya memungut buah yang bisa diolah menjadi cokelat itu di atas tanah adat setempat.
Singkat cerita, penggalan dari film berjudul Nyanyi Sunyi dalam Rantang karya sutradara Garin Nugroho itu mengungkap niat perusahaan besar mencaplok tanah adat warga.
Namun, warga menolak. Hakim yang bertugas mengadili perkara justru ikut kongkalikong. Ada kongkalikong antara perusahaan, pengadilan negeri, dan pemerintah daerah.
Film besutan Garin itu ditutup dengan Puspa duduk terdiam dan tidur di suatu bus kecil tua. Tatapannya kosong.
Namun, di tengah kesunyian itu, anak kecil mengantarkan rantang merah milik Puspa yang tertinggal. Puspa pun memeluk rantang itu sembari tersenyum tipis.
Pada intinya, film Nyanyi Sunyi dalam Rantang merupakan otokritik bagi seluruh pejabat negara untuk berbenah.
Film ini membuat kita dekat dengan krisis moral Puspa, yang semakin parah dengan setiap kasus absurd yang ditanganinya.
Dengan kesederhanaan dan berterus terang, ‘Whispers in the Dabbas’ menyuarakan suara rakyat yang tertindas ketidakadilan.
*SINOPSIS FILM NYANYI SUNYI DALAM RANTANG*
Kisah diawali dengan kasus dua buah Kakao/Coklat yang dipungut oleh ibu tua dari sebuah perkebunan besar yang diancam dihukum penjara setahun, ternyata berlatar belakang upaya pencaplokan lahan atas nama kepentingan nasional.


