Gito Daglog : Kisruh Distribusi Royalti: Saat Data Tak Akurat Menggerus Hak Pencipta

Tak hanya itu, hak terkait produser rekaman juga dinilai perlu berbagi secara adil antara produksi original dan versi cover.

PR Bukan Soal Monetisasi

Permasalahan keempat menyangkut pemahaman dasar Performing Right. Gito menegaskan, PR adalah hak atas penggunaan lagu yang dipublikasikan, bukan semata lagu yang dimonetisasi. Jika perhitungan hanya berbasis monetisasi, maka itu masuk ranah Mechanical Right.

Ia menyoroti fakta bahwa YouTube membayar secara flat untuk PR dan MR masing-masing 7 persen, serupa dengan pola pembayaran user lain seperti broadcast dan radio. Karena itu, ia mendorong perumusan kebijakan distribusi yang lebih transparan, akuntabel, dan berpijak pada prinsip keadilan bagi seluruh pencipta lagu baik yang populer maupun yang belum mendapat sorotan.

Baca Juga :   Rio Clappy Rilis Single “Belia”, Rayakan Cinta Masa Sekolah yang Tumbuh Hingga Senja

Di tengah derasnya arus digitalisasi musik, persoalan royalti bukan sekadar soal angka. Ia menyangkut keberlangsungan hidup para pencipta dan penghargaan atas karya intelektual. Jika sistem distribusi tak segera dibenahi, bukan tak mungkin kepercayaan para musisi terhadap tata kelola hak cipta akan kian tergerus.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share post:

Subscribe

spot_img

Popular

More like this
Related

Pariwisata Indonesia di Era AI, Trust Jadi Kunci Menang

Pariwisata Indonesia di Era AI sedang menghadapi perubahan besar...

Ghosun Iron Camp Fokus Bina Karakter Generasi Muda Lewat Olahraga

BEKASI, TERMINALNEWS.CO – Ghosun Iron Camp memperkuat komitmennya dalam...

Helvi Moraza Dorong Bali Jadi Pusat Wellness Dunia Lewat BWB Expo 2026

DENPASAR, TERMINALNEWS.CO – Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan...

Video Live Sarwendah Viral, Netizen Bereaksi Keras dan Ruben Onsu Tuai Dukungan Rekan Artis

JAKARTA,TERMINALNEWS.CO – Polemik yang melibatkan Sarwendah dan mantan suaminya,...