Terbuka untuk Semua, Tak Hanya yang Kurang Mampu
Sekar Nusa memang banyak diikuti peserta dari keluarga berpenghasilan rendah—mulai dari anak tukang ojek hingga buruh tani. Namun komunitas ini juga terbuka untuk siapa saja.
“Kami ingin membantu mereka yang kurang beruntung, tapi semua boleh ikut. Banyak juga peserta dari keluarga mampu yang datang untuk belajar dan bersosialisasi,” jelas Arire.
Seni Sebagai Terapi dan Fondasi Industri Kreatif
Menggambar tidak hanya dipandang sebagai karya seni, melainkan juga terapi dan pondasi industri kreatif.
“Semua produk—sepatu, topi, pakaian—bermula dari gambar. Menggambar itu terapi sekaligus dasar produksi. Kami berharap lebih banyak pihak kebudayaan memberi perhatian,” kata Arire.
Sejak 2015, Sekar Nusa juga mengembangkan kegiatan budaya lain, termasuk program “Melodi Kebangsaan” yang rutin digelar setiap tahun.
Peran Orang Tua Menentukan Keberhasilan Anak
Arire menambahkan bahwa peserta anak-anak yang mendapat pendampingan langsung dari orang tua selalu berkembang lebih pesat.
“Kalau ibunya ikut belajar, anaknya pasti lebih cepat berkembang. Itu luar biasa,” ujarnya.
Pentas Tari 22 November akan Jadi Penutup Meriah
Puncak acara akan berlangsung pada 22 November, berupa pentas tari kolaboratif yang melibatkan dua sanggar. Mereka akan menampilkan tari-tarian tradisional seperti Tari Tani dan Gugur Gunung, menonjolkan budaya lokal yang menjadi akar inspirasi komunitas ini.
Harapan Besar: Membangun Indonesia dari Desa
Arire menegaskan bahwa Sekar Nusa bukan sekadar komunitas menggambar, melainkan gerakan kecil untuk memperluas akses kreativitas.


