Selama hampir tiga dekade berdiri — sejak tampil perdana di Ethno Music Festival pada 1996 — Mahagenta telah melahirkan karya-karya yang setia pada akar budaya Nusantara. Dalam konser ini, mereka mempersembahkan 17 karya terbaik, menghadirkan alur emosi yang naik-turun: lembut, menghentak, lalu kembali menenangkan.
Resonansi yang Bertahan Usai Lampu Padam
Ketika lagu terakhir berakhir, tepuk tangan panjang menggema. Bukan hanya ucapan terima kasih, tetapi tanda bahwa musik Mahagenta berhasil menyentuh ruang paling personal dalam diri para penonton.
Di bawah cahaya “Lentera Khatulistiwa”, TIM malam itu bukan sekadar gedung pertunjukan — ia menjadi ruang perayaan budaya, tempat di mana tradisi terus bernyala dalam genggaman zaman.


