Ketidakterkaitan itu memunculkan dugaan bahwa aksi ini digerakkan oleh pihak-pihak tertentu yang hendak menekan atau mendiskreditkan PT WKM melalui aksi massa bayaran di ibu kota.
Ketika ditemui usai aksi, Amry tidak menampik bahwa dirinya hanya menjalankan pesanan dari pihak lain.
Ia mengaku dihubungi oleh seorang pria asal Maluku Utara yang tinggal di Jakarta untuk mengorganisir massa melakukan aksi di depan kantor PT WKM.
“Yang order beta par demo namanya Abang R,” ujarnya.
Amry tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai identitas maupun motif pihak yang memberikan uang tersebut. Ia hanya mengakui bahwa dirinya menerima sejumlah dana untuk mengumpulkan massa dan mengarahkan mereka hadir di lokasi.
Menurut informasi dari sejumlah peserta aksi, mereka direkrut sejak pagi hari dengan imbalan uang transport.
Mereka tidak diberi penjelasan rinci mengenai isu yang disuarakan, hanya diarahkan untuk mengikuti instruksi koordinator lapangan.
Unjuk rasa tersebut berlangsung dalam waktu sangat singkat, sekitar 10 menit. Saat sekelompok warga dan pekerja di sekitar lokasi mendatangi massa dan mempertanyakan tujuan mereka, situasi mendadak memanas.
Beberapa warga menilai aksi tersebut tidak jelas dan meminta massa untuk membubarkan diri. Ketegangan sempat terjadi ketika sebagian peserta aksi berusaha melanjutkan orasi.
Adu mulut antara warga dan beberapa orang dalam rombongan massa tidak terhindarkan, namun situasi masih dapat dikendalikan.
Melihat tekanan dari warga sekitar semakin kuat, massa kemudian mundur dan membubarkan diri tanpa terjadi insiden besar.


