“Jakarta tidak boleh hanya menjadi pasar. Kita harus menjadi pelaku utama yang mampu menciptakan inovasi dan menghasilkan talenta-talenta baru di bidang AI,” ujar Rano.
Ia menilai pengembangan sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam menyongsong era industri kreatif berbasis kecerdasan buatan. Karena itu, Jakarta akan mulai memanfaatkan jaringan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai salah satu pintu masuk untuk mencetak tenaga kerja yang siap menghadapi kebutuhan industri masa depan.
Sebagai kota global yang berbudaya dan kreatif, Jakarta melihat teknologi AI bukan lagi sekadar tren, melainkan peluang ekonomi yang nyata. Terutama dalam pengembangan subsektor film, animasi, dan produksi konten digital yang saat ini berkembang pesat di pasar internasional.
Rano menegaskan bahwa perkembangan AI harus dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperkuat daya saing industri kreatif Jakarta sekaligus membuka peluang kerja baru bagi generasi muda.
“Teknologi AI bukan lagi sekadar keniscayaan. Teknologi ini telah menghadirkan dampak ekonomi yang nyata di tingkat global. Jakarta harus mampu memanfaatkan peluang tersebut untuk memperkuat industri kreatifnya,” kata Rano.
Melalui partisipasi dalam APOS 2026, Jakarta menunjukkan keseriusannya untuk menjadi bagian dari ekosistem kreatif dunia, sekaligus menyiapkan fondasi sumber daya manusia yang mampu bersaing dalam era baru industri konten berbasis kecerdasan buatan.|Sumber Dinas Kominfotik.


