JAKARTA,TERMINALNEWS.CO — Di saat industri film dunia semakin bergantung pada efek visual komputer (CGI), sutradara Edwin memilih jalur berbeda untuk film terbarunya, Monster Pabrik Rambut.
Film produksi ini menghadirkan pengalaman visual yang unik dengan mengandalkan practical effects atau efek fisik secara langsung selama proses produksi. Hampir 90 persen adegan fantasi dan horor dalam film tersebut dibuat tanpa bergantung pada CGI, sebuah pendekatan yang mengingatkan pada film-film fantasi dan monster era 1980-an.
Menurut Edwin, sebagian besar elemen fantasi dalam film diciptakan secara nyata di lokasi syuting. Monster raksasa, rambut yang bergerak sendiri, hingga berbagai efek visual dibangun menggunakan teknik praktis yang melibatkan kostum, properti, sling, serta trik sinematografi.
“Hampir 90 persen practical. Untuk monsternya misalnya, itu ada orang di dalamnya. Rambut-rambut yang bergerak juga direkam di dalam air agar pergerakannya lebih halus. Penggunaan komputer lebih untuk menggabungkan semuanya agar terasa organik,” ujar Edwin.
Pendekatan tersebut membuat dunia dalam Monster Pabrik Rambut terasa lebih hidup sekaligus mengganggu. Kehadiran monster dan elemen fantasi yang benar-benar berada di depan kamera memberikan tekstur visual yang sulit ditiru oleh efek digital sepenuhnya.
Eksperimen visual film ini tidak berhenti pada penggunaan practical effects. Untuk memperkuat nuansa retro, tim produksi juga menerapkan teknik Digital-to-Film-to-Digital (DFD), yakni proses memindahkan gambar digital ke pita seluloid sebelum dipindai kembali ke format digital.


