Salah satu aspek yang dinilai perlu diperkuat adalah kualitas bantuan pangan yang didistribusikan kepada masyarakat terdampak. Menurutnya, bantuan pangan selama ini masih sering berorientasi pada pemenuhan kebutuhan kalori semata, tanpa mempertimbangkan kecukupan zat gizi yang dibutuhkan anak-anak.
Rahmawati menyoroti masih ditemukannya distribusi makanan instan, biskuit, hingga produk kental manis sebagai bagian dari bantuan darurat. Padahal, konsumsi pangan semacam itu secara berkelanjutan tidak mampu mendukung kebutuhan gizi anak secara optimal.
“Bantuan pangan tidak hanya soal mengenyangkan, tetapi juga memastikan kebutuhan gizi terpenuhi. Kesadaran mengenai kandungan dan kualitas makanan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan,” katanya.
Selain pemenuhan pangan, Rahmawati menilai pelibatan perempuan dan komunitas lokal perlu diperkuat dalam strategi pemulihan pascabencana. Menurut dia, masyarakat setempat memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai sumber pangan lokal yang tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan gizi keluarga.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Budi Setiawan. Ia menilai kebutuhan gizi kelompok rentan harus menjadi bagian integral dari pengelolaan dapur umum, baik pada masa tanggap darurat maupun pemulihan.
Menurut Budi, dapur umum tidak hanya berfungsi menyediakan makanan bagi penyintas, tetapi juga harus memastikan bahwa asupan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan gizi anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.


